Wednesday, May 29Karena Telinga Tidak Bisa Berdusta
Shadow

Jemimah Cita Curhat tentang Masa Terpuruknya di Single “Debu”

 

vevo musicindo

Penyanyi bertalenta Jemimah Cita kembali mengeluarkan karya terbarunya yaitu sebuah single yang diberi judul “Debu”. Ini menjadi single terbaru Jemimah setelah setahun lamanya ia melepas lagu “Kisah Tak Pasti” yang juga masih berada di bawah label rekaman Universal Music Indonesia.

Sebuah lagu pop ballad yang sangat menyentuh karena ditulis berdasarkan pengalaman pribadi Jemimah Cita yang memang pernah melalui masa-masa paling terpuruk di hidupnya.

Cerita di balik lagu “Debu”

 Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang sudah merasa lelah dengan hidupnya karena meskipun ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjadi yang terbaik, usahanya tersebut selalu kurang dan dirinya selalu direndahkan serta dijelek-jelekkan oleh orang lain atau bahkan lebih parahnya dianggap tidak ada.

“Jadi, pada akhirnya, orang tersebut harus berdamai dengan situasi yang ada dan menerima fakta bahwa ia hanya akan dianggap ada serta berarti ketika dirinya sudah menjadi orang yang berhasil. Seperti itu kurang lebih,” ujar Jemima menceritakan tentang cerita di balik lagu “Debu” tersebut.

Proses penulisan dan produksi lagu “Debu”

Dalam proses penulisan lagunya, Jemimah Cita dibantu oleh beberapa songwriter. Namun, menariknya lagu tersebut awalnya dibuat oleh Jemimah Cita hanya dalam waktu 15 menit saja, di kamar mandi apartemennya dengan dibalut perasaan sedih yang berkecamuk.

Sementara, untuk proses poduksinya sendiri memakan waktu lima hingga enam bulan sejak penulisan awal di sebuah kamar mandi tersebut terjadi.

“Lagu ini aku tulis di kamar mandi apartemenku yang lama. Aku inget banget nulisnya hanya butuh waktu 15 menit dan aku nulisnya sambil nangis karena saat itu aku merasa kalau dunia ini jahat banget sama aku. Perasaan itu akhirnya aku rangkai dan tuangkan dalam lagu “Debu” ini,” kata Jemimah.

Sementara, untuk departemen suara dan aransemen, lagu ini memang sangat terasa ambience kesedihan yang diangkat lewat liriknya, nada-nada minor yang dipilih membuatnya nuansanya semakin menjadi pilu. Sebuah lagu kesedihan yang sangat menusuk hati jika kalian meresapinya.

Jemimah sendiri mengakui lagu ini banyak menggunakan nada-nada yang pada dasarnya cukup tricky, teurutama di bagian improvisasi dan backing vocal-nya. Namun, di situ tantangannya, dan Jemimah mampu menerjemahkannya menjadi sebuah karya yang sangat mengagumkan.

“Tantangannya terutama ada di bagian improvisasi dan backing vocal-nya. Karena backing vocal-nya kalau gak ada sama sekali jadi kurang oke, tapi di sisi lain kalau terlalu berlebihan juga rasanya kurang pas, jadi cukup tricky di situ. Nada-nadanya yang kebanyakan minor juga cukup tricky untuk dinyanyikan karena benar-benar harus cari nada yang pas supaya tidak terdengar fals,” ungkap Jemimah tentang tantangan di lagu “Debu” ini.

Konsep musik video

Sementara itu, untuk konsep dari musik video single “Debu” dibuat sangat menarik oleh kausa.xyz dengan Isdam Atrahadena yang bertindak sebagai sutradaranya. Cukup simpel, dengan mengkolaborasikan antara beauty shots dan storytelling sebagai penguat dari musik dan liriknya.

Jemimah sendiri banyak memberikan masukan soal konsep musik videonya. Masukannya lebih ke arah kondisi yang memang sedang ia rasakan sekarang terhadap lagu yang ia ciptakan tersebut. Wajib tonton, sih!

“Dari pihak label dan production house juga banyak kasih ide-ide yang fresh menurutku jadi musik video ini bisa dibilang jadi salah favoritku di antara yang sebelum-sebelumnya, karena banyaknya emosi yang tersampaikan di musik video ini,” tegasnya.

Jemimah berharap, single “Debu” ini dapat didengarkan dan dinikmati oleh banyak orang, dan bisa menginspirasi untuk menjadi orang yang lebih baik dan diakui serta dihargai.

“Semoga single ini bisa memberkati banyak orang, dan semoga orang-orang yang ada di situasi yang sama dengan aku ketika penulisan lagu ini tidak merasa sendirian dan lebih tegar lagi dalam menjalani kehidupan yang keras ini, sampai kita bisa menjadi orang yang “terpandang” hingga mungkin saat itu kita akhirnya bisa lebih dihargai oleh orang lain,” harap Jemimah.